Pemanfaatan Laut sebagai Solusi Ketahanan Energi Nasional

Pemanfaatan Laut sebagai Solusi Ketahanan Energi Nasional

c{ca}1408971986-ekoshilman_gardupln_original_02{ca}2014-12-26{ca}08-36-15{ca}1390113926{ca}h_thumb_b

Sumber Artikel: http://www.migasreview.com/post/1417495985/pemanfaatan-laut-sebagai-solusi-ketahanan-energi-nasional.html

MigasReview, Jakarta – Energi laut merupakan jenis energi terbarukan dan sekaligus baru bagi Indonesia, meskipun pengembangannya di dunia telah dimulai sejak 1980-an. Di era 1090-an penelitian dan kegiatan survei pengukuran potensi energi laut telah dimulai, namun kegiatan ini tidak sampai pada implementasi karena berbagai sebab, termasuk krisis ekonomi.

Bahkan dalam tataran kebijakan, Blueprint Pengelolaan Energi Nasional (BPEN) mengatur semua jenis energi, kecuali energi laut. Hingga 2010, p erintah belum mengakomodasi pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya energi laut.

“Mulai tahun ini Kementrian ESDM telah menandai keseriusan pengembangan energi laut melalui launching Peta Nasional Potensi Energi Laut (PNPEL) 2014 dan mempersiapkan proyek percontohan yang akan tersambung ke jaringan listrik”, tutur Ketua Asosiasi Energi Laut Indonesia (ASELI) Mukhtasor, di sela peluncuran PNPEL oleh Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo di Surabaya, 7 Maret 2014.

PNPEL telah ditandatangani oleh Menteri ESDM Jero Wacik di Jakarta sehari sebelumnya. ASELI mendorong pengembangan energi laut sebagai salah satu solusi dalam menghadapi tantangan ketahanan dan kemandirian energi nasional. Selama empat tahun ini berbagai kemajuan dihasilkan dari kerjasama ASELI dengan berbagai institusi seperti Kementerian ESDM melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL), Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Pusat Penelitian dan Perekayasaan Teknologi Kelautan dan Perikanan (PPPTKP), Kementerian Riset dan Teknologi, Kementerian Lingkungan Hidup, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Seiring dengan kerja keras dan keuletan para pelaku dan pengembang energi laut Indonesia, akhirnya di awal 2014 ini telah dihasilkan berbagai capaian nasional yang signifikan di bidang energi laut,” kata Mukhtasor yang merupakan anggota Dewan Energi Nasional (DEN).

Proyek Percontohan

Di antara capaian nasional tersebut adalah persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) atas Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Kebijakan Energi Nasional yang mengakomodasi pengembangan energi laut melalui proyek percontohan; peluncuran peta nasional energi laut yang pertama di Indonesia; persiapan program pilot project pembangkit listrik energi arus laut 3 MW; inisiasi kerjasama internasional proyek percontohan pembangkit listrik tenaga panas laut 10 MW; peluncuran buku potensi energi laut Indonesia, buku dokumen hasil survei, dan pemodelan arus laut Indonesia; serta kesiapan perguruan tinggi dalam menyelenggarakan pendidikan pasca sarjana di bidang energi laut bekerjasama dengan sumber internasional.

Rancangan Peraturan Pemerintah yang diusulkan oleh DEN dan disetujui oleh DPR pada 28 Januari 2014 mengamanatkan tentang Kebijakan Energi Nasional yang baru terkait pengelolaan energi nasional.

Menurut Mukhtasor, di antara target penyediaan dan pemanfaatan energi dalam kebijakan ini adalah terpenuhinya penyediaan energi primer sekitar 400 MTOE pada 2025 dan sekitar 1.000 MTOE pada 2050. Selain itu, penyediaan kapasitas pembangkit listrik sekitar 115 GW ditargetkan terpenuhi pada 2025 dan menjadi sekitar 430 GW pada 2050.

Melalui kebijakan ini, persentase energi baru dan terbarukan dalam bauran energi nasional sebesar 23 persen ditargetkan tercapai pada 2025 dan menjadi 31 persen pada 2050.

“Menurut amanat Kebijakan Energi Nasional, pemanfaatan sumber daya energi terbarukan, termasuk di dalamnya energi laut, diarahkan untuk ketenagalistrikan. Sebagai langkah awal, pemanfaatan sumber energi laut didorong dengan membangun proyek percontohan yang terhubung dengan jaringan listrik,” tegas Mukhtasor yang juga Guru Besar di Fakultas Teknologi Kelautan ITS.

Menurut Wamen ESDM Susilo Siswoutomo, pemerintah siap melaksanakan amanat Kebijakan Energi Nasional yang baru dikeluarkan oleh DEN dan disetujui oleh DPR, termasuk di dalamnya tentang amanat energi laut tersebut.

Siapkan SDM

Percepatan pengembangan energi laut sudah menjadi keniscayaan mengingat besarnya potensi energi ini juga harus memberi perhatian pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dalam hal penguasaan dan pemanfaatan energi laut.

Dalam kaitan dengan hal ini, ITS menunjukkan kesiapannya dalam peningkatan kapasitas nasional di bidang energi laut, khususnya dalam penyediaan layanan pendidikan lanjut pada program pasca sarjana. ASELI sedang bekerjasama dengan Robert Gordon University (RGU), Inggris, untuk program peningkatan kapasitas nasional energi laut. Dalam konteks ini pula, ITS dan RGU telah menandatangi memorandum of understanding (MoU) pada Februari 2014 untuk kerjasama di bidang penelitian dan pendidikan energi laut.

Koordinator Program Pascasarjana Teknologi Kelautan ITS Dr. Rudi Waluyo menegaskan, kerjasama ini difokuskan untuk membentuk konsentrasi baru pada Program Pasca Sarjana Teknologi Kelautan di bidang energi laut dalam rangka menyiapkan tenaga ahli dan profesional Indonesia yang siap menyambut berbagai tantangan dalam pengembangan energi laut di masa depan.

“Program pasca sarjana tersebut akan dibingkai dalam konsentrasi teknik dan manajemen energi laut, di antaranya meliputi studi tentang prinsip konversi energi arus laut, gelombang laut dan panas laut, infrastruktur kelautan pendukung energi laut, keekonomian energi laut dan bisnis kelistrikan, kebijakan dan regulasi, serta kewirausahaan di bidang energi,” tutup Rudi. (anovianti muharti)

One thought on “Pemanfaatan Laut sebagai Solusi Ketahanan Energi Nasional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »